iseng-iseng buat video, dan ini hasilnya :D
gpp lah, itung-itung blajar
hehehe
Nurul Anggraini
Rabu, 12 Maret 2014
Selasa, 11 Maret 2014
Jumat, 17 Januari 2014
Imunisasi Dasar
IMUNISASI
A.
Pengertian
Imunisasi
Pengertian Imunisasi Dasar Imunisasi adalah upaya yang
dilakukan dengan sengaja memberikan kekebalan (imunisasi ) pada bayi atau anak
sehingga terhindar dari penyakit (Supartini, Y, 2004). Imunisasi dasar adalah imunisasi yang
diberikan untuk mendapatkan kekebalan awal secara aktif. Upaya imunisasi perlu
terus ditingkatkan untuk mencapai tingkat kekebalan masyarakat yang tinggi
sehingga PD3I (penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi) dapat
dibasmi, dieliminasi atau dikendalikan berdasarkan pada Kep. Menkes No.
1611/Menkes/SK/XI/ 2005 tentang Pedoman Penyelenggaraan Imunisasi
(Dinkes.Prov.Jatim, 2006).
Vaksin
adalah suatu obat yang diberikan untuk membantu mencegah suatu penyakit. Vaksin
membantu tubuh untuk menghasilkan antibodi. Antibodi ini berfungsi
melindungi terhadap penyakit. Vaksin tidak hanya menjaga agar anak tetap sehat,
tetapi juga membantu membasmi penyakit yang serius yang timbul pada masa
kanak-kanak. Vaksin secara umum cukup aman. Keuntungan perlindungan yang
diberikan vaksin jauh lebih besar daripada efek samping yang mungkin timbul.
Dengan adanya vaksin maka banyak penyakit masa kanak-kanak yang serius, yang
sekarang ini sudah jarang ditemukan.
B.
Macam
– macam Imunisasi
1. BCG adalah vaksin bentuk beku kering
yang mengandung mycobacterium bovis hidup yang sudah dilemahkan dari strain
Paris no. 1173.P2.
Indikasi:
Untuk pemberian kekebalan aktif
terhadap TBC (Tuberculosa).
Komposisi:
Setelah dilarutkan dengan 4 ml
pelarut, tiap ml vaksin mengandung:
Umur : 0 – 11 bln
Dosis : 0,05 cc
Cara : Intrakutan, lengan kanan
Jumlah suntikan : Satu kali
Penyimpanan
dan Daluarsa:
Vaksin harus disimpan pada suhu 2o-
8oC. Lebih baik dalam freezer. Pengangkutan dalam keadaan dingin (2o-
8oC) dan terhindar dari sinar matahari langsung/tidak langsung
Daluarsa : 1 tahun
Vaksin yang sudah dilarutkan:
1.
Harus dipakai dalam waktu 3 jam, dan selama waktu
tersebut, vaksin harus dalam keadaan dingin (2o-8oC,
jangan disimpan di dalam freezer)
2.
Setelah 3 jam, bila ada sisa jangan dipakai lagi.
Kemasan:
Vaksin BCG kering beku ini tersedia
dalam kemasan ampul dengan 4 ml pelarut dalam ampul.
Efek samping :
a.
Reaksi normal
Bakteri BCG ditubuh bekerja dengan
sangat lambat. Setelah 2 minggu akan terjadi pembengkakan kecil merah di tempat
penyuntikan dengan garis tengah 10 mm.
Setelah 2 – 3 minggu kemudian,
pembengkakan menjadi abses kecil yang kemudian menjadi luka dengan garis tengah
10 mm, jangan berikan obat apapun pada luka dan biarkan terbuka atau bila akan
ditutup gunakan kasa kering. Luka tersebut akan sembuh dan meninggalkan
jaringan parut tengah 3-7 mm.
b.
Reaksi berat
Kadang terjadi peradangan setempat
yang agak berat atau abses yang lebih dalam, kadang juga terjadi pembengkakan
di kelenjar limfe pada leher / ketiak, hal ini disebabkan kesalahan penyuntikan
yang terlalu dalam dan dosis yang terlalu tinggi.
c.
Reaksi yang lebih cepat
Jika anak sudah mempunyai kekebalan
terhadap TBC, proses pembengkakan mungkin terjadi lebih cepat dari 2 minggu,
ini berarti anak tersebut sudah mendapat imunisasi BCG atau kemungkinan anak
tersebut telah terinfeksi BCG.
Kontraindikasi:
Adanya penyakit kulit yang berat /
menahun seperti : eksim, furunkulosis dan sebagainya. Mereka yang sedang
menderita TBC.
2. DPT berupa toxoid difteri dan toxoid
tetanus yang dimurnikan dan pertusis yang inaktifasi serta vaksin hepatitis B
yang merupakan sub unit vaksin virus yang mengandung HbsAg murni dan bersifat
non-infectious.
Indikasi:
Untuk pemberian kekebalan aktif
terhadap penyakit difteri, tetanus, pertusis.
Komposisi:
Tiap ml mengandung:
Umur : 2 – 11 bln
Dosis : 0,05 cc
Cara : IM / SC, jumlah suntikan : 3 x
Selang pemberian : Minimal 4
minggu
Penyimpanan
dan Daluarsa:
Vaksin DTP harus disimpan dan
ditransportasikan pada suhu 2oC-8oC tidak boleh dibekukan
Daluarsa : 2 tahun
Kemasan:
Vaksin tersedia dalam kemasan vial
10 dosis
Efek samping :
a.
Panas
Kebanyakan anak akan menderita panas
pada sore hari setelah mendapat imunisasi DPT, tapi panas ini akan sembuh 1 – 2
hari. Anjurkan agar jangan dibungkus dengan baju tebal dan dimandikan dengan
cara melap dengan air yang dicelupkan ke air hangat.
b.
Rasa sakit di daerah suntikan
Sebagian anak merasa nyeri, sakit,
kemerahan, bengkak.
c.
Peradangan
Bila pembengkakan terjadi seminggu atau lebih, maka hal ini mungkin disebabkan peradangan, mungkin disebabkan oleh jarum suntik yang tidak steril karena :
Bila pembengkakan terjadi seminggu atau lebih, maka hal ini mungkin disebabkan peradangan, mungkin disebabkan oleh jarum suntik yang tidak steril karena :
·
Tersentuh
·
Sebelum dipakai menyuntik jarum diletakkan diatas
tempat yang tidak steril.
·
Sterilisasi kurang lama.
·
Pencemaran oleh kuman.
·
Kejang-kejang.
·
Reaksi yang jarang terjadi sebaliknya diketahui
petugas reaksi disebabkan oleh komponen dari vaksin DPT.
Kontoindikasi:
Terdapat beberapa kontra indikasi
yang berkaitan dengan suntikan pertama DTP. Gejala-gejala keabnormalan otak
pada periode bayi baru lahir atau gejala-gejala serius keabnormalan pada saraf
merupakan kontraindikasi dari komponen pertussis. Imunisasi DTP kedua tidak
boleh diberikan kepada anak yang mengalami gejala-gejala parah pada dosis
pertama DTP. Komponen pertussis harus dihindarkan, dan hanya dengan diberi DT
untuk meneruskan imunisasi ini. Untuk individu penderita HIV baik dengan gejala
maupun tanpa gejala harus diberi imunisasi DTP sesuai dengan standar jadual
tertentu.
3. Polio adalah Vaksin Polio trivalent yang
terdiri dari suspensi virus poliomyelitis tipe 1,2 dan 3 (strain sabin) yang
sudah dilemahkan, dibuat dalam biakan jaringan ginjal kera dan distabilkan
dengan sukrosa.
Indikasi:
Untuk pemberian kekebalan aktif
terhadap Poliomyelitis.
Komposisi:
Tiap dosis (2 tetes=0,1 ml)
mengandung virus polio tidak kurang dari:
Umur : 0 – 11 bln
Dosis : 2 tetes
Cara : Meneteskan ke dalam mulut
Selang waktu : Berikan 4
x dengan jarak minimal 4 minggu.
Penyimpanan
dan Daluarsa:
Jika disimpan pada suhu -20 oC
atau lebih rendah, potensi vaksin sesuai yang tertera pada vial di atas sampai
masa daluarsa. Tidak boleh disimpan pada suhu 2o-8 oC
selama periode waktu lebih dari 6 bulan. Bila vaksin sudah dibuka dan disimpan
pada suhu 2 o- 8 oC, potensi vaksin bertahan
untuk selama 7 hari.
Daluarsa: tergantung dari
penyimpanan:
-20 oC
daluarsa : 2 tahun
2o- 8 oC
daluarsa : 6 bulan
Kemasan:
Vaksin tersedia dalam kemasan 20
dosis yang masing-masing dilengkapi 1 buah dropper.
Efek samping :
Bila anak sedang diare ada
kemungkinan vaksin tidak bekerja dengan baik karena ada gangguan penyerapan
vaksin oleh usus akibat diare berat.
Kontraindikasi:
Pada individu yang menderita “immune
deficiency”. Tidak ada efek yang berbahaya yang timbul akibat pemberian
OPV pada anak yang sedang sakit. Namun jika ada keraguan, misalnya sedang
menderita diare, maka dosis ulangan dapat diberikan setelah sembuh.
4. Hepatitis B merupakan vaksin DNA rekombinan
yang berasal dari HbsAg yang diproduksi melalui teknologi DNA rekombinan pada
sel ragi.
Indikasi:
Untuk pemberian kekebalan aktif
terhadap infeksi yang disebabkan oleh virus Hepatitis B. Tidak dapat mencegah
infeksi virus lain seperti virus Hepatitis A atau C atau yang diketahui dapat
menginfeksi hati.
Komposisi:
Setiap 1 ml vaksin mengandung HBsAg
20 mcg yang teradsorbsi pada Aluminium hidroksida 0,5 mg. Setiap 0,5 ml vaksin
mengandung HBsAg 10 mcg yang teradsorbsi pada Aluminium hidrosida 0,25 mg. Seluruh
formulasi mengandung Thimerosal 0,01 w/v% sebagai pengawet.
Umur : Mulai umur 0 bulan
Dosis : 0, 5 cc / pemberian
Cara : Suntikan IM pada bagian luar
Jumlah
suntikan : 3 x
Selang
pemberian : 3 dosis dengan jarak suntikan 1
bulan dan 5 bulan.
Penyimpanan
dan Daluarsa:
Vaksin harus disimpan pada suhu 2o-
8oC.
Daluarsa : 26 bulan
Peringatan
dan Perhatian:
·
Efek antigen terhadap janin belum diketahui dan karena
itu vaksinasi terhadap wanita hamil tidak direkomendasikan, kecuali pada
keadaan resiko tinggi.
·
Epinephrine sebaiknya selalu tersedia untuk penanganan
reaksi anafilaktik
·
Mengingat masa inkubasi virus Hepatisis B panjang, ada
kemungkinan terjadi infeksi yang tidak diketahui pada saat vaksinasi.
·
Jangan diberikan pada daerah gluteal atau
intra-dermal, karena tidak akan memberikan respon imun yang optimal, dan jangan
diberikan secara intravena.
·
Pada pasien dialysis dan orang yang mempunyai
kelemahan system imun, respon antibody mungkin tidak cukup setelah vaksinasi
dasar, karena itu perlu diberikan vaksinasi ulang.
Kemasan: Vaksin
tersedia dalam kemasan vial multi dosis 2,5 ml.
Efek samping : tidak ada
Kontraindikasi:
Hipersensitif terhadap komponen
vaksin. Sama halnya seperti vaksin-vaksin lain, vaksin Hepatisis B Rekombinan
tidak boleh diberikan kepada penderita infeksi berat yang disertai kejang.
Tetapi vaksinasi dapat diberikan kepada penderita infeksi ringan.
5.
Campak
merupakan vaksin virus hidup yang dilemahkan. Vaksin ini berbentuk vaksin
beku kering yang harus dilarutkan dengan aquabidest steril.
Indikasi:
Untuk pemberian kekebalan aktif
terhadap penyakit Campak.
Komposisi:
Tiap dosis vaksin yang sudah
dilarutkan mengandung:
Umur : 9 bln.
Dosis : 0, 5 cc
Cara : Suntikan secara IM di lengan kiri atas.
Jumlah suntikan :
1 x dapat diberikan bersamaan dengan
pemberian vaksin lain tapi tidak dicampur dalam 1 semprit.
Penyimpanan
dan Daluarsa:
Vaksin campak beku kering harus
disimpan pada suhu di bawah 8 oC (lebih baik kalau di bawah
0 oC) sampai ketika vaksin akan digunakan. Tingkat stabilitas
akan lebih baik jika vaksin (bukan pelarut) disimpan pada suhu -20 oC.
Pelarut tidak boleh dibekukan tetapi disimpan pada kondisi sejuk sampai dengan
ketika akan digunakan. Vaksin harus terlindung dari sinar matahari.
Daluarsa : 2 tahun
Kemasan:
Vaksin tersedia dalam kemasan vial
10 dosis + 5 ml pelarut dalam ampul.
Efek samping vaksin campak :
Panas dan kemerahan. Anak-anak
mungkin panas selama 1 – 3 hari setelah 1 minggu penyuntikan, kadang disertai
kemerahan seperti penderita campak ringan.
Kontraindikasi:
Individu yang mengidap penyakit
immuno deficiency atau individu yang diduga menderita gangguan respon imun
karena leukemia, lymphoma. ( Dinkes Prov Jatim, 2005).
6. Hib
Penyakit Hib disebabkan bakteri
Haemophilus Influenza type B (Hib). Hib biasa menyerang anak di bawah 5 tahun.
Anak-anak dapat tertular bakteri Hib
dari anak lain yang sakit atau orang dewasa yang membawa bakteri Hib, namun tidak sakit. Kuman tertular
melalui kontak dengan penderita Hib. Jika bakteri Hib berada di rongga hidung
atau tenggorokan, mungkin tidak
menyebabkan sakit. Namun bakteri Hib dapat masuk ke paru-paru dan peredaran
darah dan menyebabkan penyakit serius.
Sebelum ditemukannya vaksin Hib,
penyakit Hib merupakan penyebab utama radang selaput otak (meningitis) pada
anak di bawah 5 tahun. Meningitis menyebabkan kerusakan otak dan medulla
spinalis. Hib juga menyebabkan pneumonia, infeksi berat di tenggorokan, infeksi
pada persendian, tulang dan selaput jantung, bahkan kematian.
Anak-anak perlu mendapatkan vaksinasi
Hib pada usia: 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 12-15 bulan.
Anak di atas 5 tahun tidak perlu
mendapatkan vaksin Hib. Namun dalam kondisi tertentu, vaksinasi Hib perlu diberikan, seperti penderita
sickle cell, HIV, pengangkatan limpa, transplantasi sumsum tulang atau
penderita kanker yang sedang menjalani kemoterapi.
Vaksin Hib beresiko menimbulkan efek samping ringan. Berikut
efek samping vaksinasi Hib yang pernah dilaporkan: merah dan bengkak di tempat
penyuntikan dan demam tinggi. Keluhan tersebut biasanya hilang sendiri dalam 2-3 hari.
Jadwal Pemberian Imunisasi
|
Vaksin
|
Pemberian Imunisasi
|
Selang Waktu
|
Umur
|
|
BCG
|
1 x
|
0 – 11 bulan
|
|
|
DPT
|
3 x (1, 2, 3)
|
4 mgg
|
2 – 11 bulan
|
|
Polio
|
4x (1, 2, 3, 4)
|
4 mgg
|
0 – 11 bulan
|
|
Campak
|
1 x
|
9 – 11 bulan
|
|
|
Hep. B
|
3 x (1, 2, 3)
|
4 mgg
|
0 – 11 bulan
|
|
Hib
|
4x (1, 2, 3, 4)
|
4 mgg
|
2 - 15 bulan
|
Sumber:
http://www.imunisasi.net/Hib.html
Langganan:
Postingan (Atom)