BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
ISSUE ETIK adalah topik
yang cukup penting untuk dibicarakan sehingga mayoritas individu akan
mengeluarkan opini terhadap masalah tersebut sesuai dengan asas ataupun nilai
yang berkenaan dengan akhlak, nilai benar salah yang dianut suatu golongan atau
masyarakat.
Dalam prakteknya, bidan
mungkin saja akan mengalami hal tersebut. Dan bidan dalam mengambil keputusan /
tindakan haruslah dengan tepat. Maka sangat penting sekali untuk memahami
masalah ini.
Pada kesempatan kali ini,
kami akan membahas mengenai issue etik yang berhubungan dengan hipertensi pada
kehamilan.
B.
RUMUSAN
MASALAH
1. Apa
yang dimaksud dengan hipertensi ?
2. Bagaimana
gejala dari hipertensi ?
3. Apa
penyebab dari hipertensi ?
4. Apa
yang dimaksud dengan hipertensi dalam kehamilan ?
5. Bagaimana
penanganan hipertensi selama kehamilan ?
C.
TUJUAN
Tujuan Khusus : Untuk memenuhi tugas mata kuliah Etika
Profesi.
Tujuan
Umum : Mengetahui dan memahami
hipertensi dalam kehamilan, dampak, penyebab, gejala, dan penanganannya.
Dapat mengambil
hikmah dari kasus yang ada.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
A.
PENGERTIAN
HIPERTENSI
Pengertian hipertensi atau tekananan darah
tinggi merupakan gangguan pada sistem peredaran darah yang dapat menyebabkan
kenaikan tekanan darah di atas nilai normal, yaitu melebihi 140 / 90 mmHg.
Hipertensi dalam bahasa inggrisnya adalah Hypertension, Hypertension berasal
dari dua kata yaitu Hyper yang berarti tinggi, dan Tension yang berarti
tegangan.
Tekanan darah kurang dari 120 / 80 mmHg dapat diartikan sebagai tekanan
darah yang normal. Ketika terjadi tekanan darah tinggi, umumnya terjadi kenaikan tekanan sistolik dan diastolik. Hipertensi umumnya terjadi ketika tekanan darah
mencapai 140 / 90 mmHG atau lebih, pengukuran tekanan darah ini dilakukan pada
lengan tiga kali dalam jangka beberapa minggu.
Berikut
ini merupakan tabel klasifikasi atau penggolongan tekanan darah pada orang
dewasa.
B.
GEJALA HIPERTENSI
Hipertensi atau tekanan
darah tinggi harus diwaspadai, karena umumnya pada penderita hipertensi tidak
merasakan adanya gejala. namun secara tidak sengaja beberapa gejala
terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi
(padahal sesungguhnya tidak). Gejala yang dimaksud adalah sakit kepala,
perdarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan dan kelelahan, yang bisa saja terjadi
baik pada penderita hipertensi, maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang
normal.
Jika hipertensi sudah pada level yang berat atau
menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala antara lain : sakit
kepala, kelelahan, mual, muntah, sesak napas, gelisah, pandangan
menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak, mata, jantung dan
ginjal. Terkadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran
dan bahkan koma karena terjadi pembengkakan otak. Keadaan ini disebut ensefalopati
hipertensif, yang harus segera mendapatkan penanganan.
C.
PENYEBAB HIPERTENSI
Berdasarkan penyebabnya, hipertensi terdiri atas dua macam
yaitu Hipetensi Primer atau Esensial dan Hipertensi Sekunder. Hipertensi primer
atau esensial merupakan hipertensi yang tidak atau belum diketahui sebabnya
(terdapat pada kurang lebih 90 % dari seluruh hipertensi).
Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang disebabkan/ sebagai akibat dari
adanya penyakit lain. Hipertensi primer kemungkinan memiliki banyak penyebab;
beberapa perubahan pada jantung dan pembuluh darah kemungkinan bersama-sama
menyebabkan meningkatnya tekanan darah.
Jika penyebabnya diketahui, maka disebut hipertensi
sekunder. Pada sekitar 5-10% penderita hipertensi, penyebabnya adalah penyakit
ginjal. Pada sekitar 1-2%, penyebabnya adalah kelainan hormonal atau pemakaian
obat tertentu (misalnya pil KB).
Penyebab hipertensi lainnya yang jarang adalah feokromositoma, yaitu tumor pada
kelenjar adrenal yang menghasilkan hormon epinefrin (adrenalin) atau norepinefrin
(noradrenalin).
Kegemukan (obesitas), gaya hidup yang tidak aktif (malas
berolah raga), stres, alkohol atau garam dalam makanan; bisa memicu terjadinya
hipertensi pada orang-orang memiliki kepekaan yang diturunkan. Stres cenderung
menyebabkan kenaikan tekanan darah untuk sementara waktu, jika stres telah
berlalu, maka tekanan darah biasanya akan kembali normal. Beberapa penyebab
terjadinya hipertensi sekunder antara lain :
1. Penyakit Ginjal : Stenosis arteri renalis, Pielonefritis,
Glomerulonefritis, Tumor-tumor ginjal, Penyakit ginjal polikista (biasanya
diturunkan), Trauma pada ginjal (luka yang mengenai ginjal), Terapi penyinaran
yang mengenai ginjal.
2. Kelainan Hormonal : Hiperaldosteronisme, Sindroma Cushing,
Feokromositoma,
3. Obat-obatan : Pil KB, Kortikosteroid, Siklosporin,
Eritropoietin, Kokain, Penyalahgunaan alkohol, Kayu manis (dalam jumlah sangat
besar)
4. Penyebab Lainnya : Koartasio aorta, Preeklamsi pada
kehamilan, Porfiria intermiten akut, Keracunan timbal akut.
D.
HIPERTENSI
DALAM KEHAMILAN
1. Hipertensi
dalam kehamilan
2. Preeklampsia
: ringan dan berat
3. Eklampsia
4. Hipertensi
kronik
5. Hipertensi
kronik superimposed preeklampsia atau eklampsia
Preeklampsia
Didefinisikan sebagai timbulnya
hipertensi, proteinuri setelah kehamilan 20 minggu pada wanita dengan tekanan
darah yang normal sebelumnya. Dapat juga berkaitan dengan gejala dan tanda
lainnya seperti edema, gangguan penglihatan, nyeri kepala, nyeri ulu hati.
Preeklampsia dapat timbul sebelum usia kehamilan 20 minggu pada wanita dengan
kehamilan mola atau adanya lupus antikoagulan. Terdapat dua jenis preeklampsia
yaitu:
·
Preeklampsia ringan, bila tidak
ditemukan adanya tanda preeklampsia berat
·
Preeklampsia berat, bila satu
atau lebih kriteria di bawah ini terpenuhi
a) Tekanan
darah sistolik > 160
mmHg atau diastolik > 110
mmHg dalam dua kali pengukuran dengan jarak 6 jam
b) Proteinuri
sebesar 5 g/24 jam atau +3 atau lebih pada pengukuran semikuantitatif
c) Olguria,
produksi urin kurang dari 500 cc/24 jam
d) Gangguan
serebral atau penglihatan, gangguan kesadaran, nyeri kepala, skotoma
e) Edema
paru
f) Nyeri
epigastrium atau kuadran kanan atas
g) Gangguan
fungsi hati tanpa adanya etiologi lain
h) Trombositopenia
i)
Pertumbuhan janin terhambat
Eklampsia
Eklampsia
adalah timbulnya kejang umum atau penurunan kesadaran pada wanita dengan
preeklampsia setelah penyakit neurologis, seperti epilepsi sudah disingkirkan. Jika
hipertensi ditemukan pada kehamilan < 20 minggu dan tidak adanya mola
hidatidosa maka wanita tersebut didiagnosis dengan hipertensi kronik. Dan bila
kemudian timbul proteinuri maka disebut preeklampsia superimposed. Kriteria
lain preeklampsia superimposed adalah peningkatan tekanan darah yang mendadak,
timbulnya hemolisis, gangguan fungsi hati, timbulnya sindroma hellp.
Teori mengenai etiologi dan patofisiologi preeklampsia harus
memperhatikan pengamatan bahwa penyakit hipertensi karena kehamilan lebih
mungkin terjadi pada wanita yang:
1. Terpajan
villi korialis untuk pertama kalinya
2. Terpajan
villi korialis yang jumlahnya banyak, seperti dalam kembar atau mola hidatidosa
3. Mempunyai
penyakit vaskuler sebelumnya
4. Mempunyai
predisposisi genetik untuk hipertensi
Meskipun vili korialis penting
dalam etiologi preeklampsia, namun letaknya tidak harus di dalam uterus dan
juga janin tidak menjadi penentu timbul atau tidaknya preeklampsia. Apapun
etiologi yang mendasarinya, kaskade peristiwa yang menghasilkan sindrom
preeklampsia mempunyai ciri kerusakan endotel vaskuler dengan vasospasme,
transudasi plasama yang diikuti sekuele iskemia dan trombosis.
Beberapa mekanisme sudah diajukan untuk menjelaskan etiologi
preeklampsia. Menurut sibai, etiologi yang dianggap potensial adalah:
1. Invasi
trofoblas pembuluh darah uterina yang abnormal
2. Intoleransi
imunologis antara jaringan maternal dan janin-plasenta
3. Maladaptasi
maternal terhadap perubahan kardiovaskuler atau inflamasi selama kehamilan
4. Defisiensi
nutrisi
5. Pengaruh
genetik
Preeklampsia adalah suatu sindrom atau kumpulan gejala yang
mempunyai konsekuensi patofisiologi pada seluruh sistem tubuh. Perubahan pada
masing-masing sistem organ saling mempengaruhi dan juga derajat patologi
masing-masing sistem organ berbeda-beda sehingga spektrum penyakit
preeklampsia-eklampsia sangat bervariasi.
Gangguan pada sistem kardiovaskuler umum ditemukan pada pasien
preeklampsia atau eklampsia. Hal ini berkaitan dengan meningkatnya beban
afterload karena hipertensi, perubahan preload yang diakibatkan oleh
berkurangnya hipervolemia pada kehamilan dan aktivasi endotel dengan ekstravasasi
plasma. Derajat aberasi kardiovaskuler tergantung beberapa faktor, termasuk
beratnya hipertensi, ada tidaknya penyakit kronik, ada tidaknya preeklampsia
dan waktu pemeriksaan.
Hemokonsentrasi adalah fitur utama dari preeklampsia-eklampsia.
Wanita dengan berat badan rata-rata seharusnya mempunyai 5000 cc volume darah
pada saat aterm dibandingkan 3500 cc pada wanita yang tidak hamil. Pada
preeklampsia-eklampsia volume yang meningkat sebesar 1500 cc tidak terjadi. Dengan adanya
hemokonsentrasi, vasospasme dan kebocoran endotel maka wanita dengan
preeklampsia-eklampsia sensitif terhadap terapi cairan yang diberikan dan
terhadap kehilangan darah saat persalinan.
Kelainan hematologi juga terjadi pada beberapa wanita dengan
preeklampsia. Trombositopenia, penurunan faktor pembekuan dan hemolisis
eritrosit adalah yang sering terjadi. Penurunan jumlah trombosit diakibatkan
oleh aktivasi platelet, agregasi dan konsumsi yang meningkat disertai rentang
hidup yang berkurang. Trombositopenia di bawah 100.000/ul menggambarkan proses
penyakit yang berat, dan biasanya akan terus menurun. Setelah persalinan,
jumlah trombosit akan meningkat progresif untuk mencapai kadar normal dalam 3-5
hari. Preeklampsia berat sering disertai dengan hemolisis yang ditandai dengan
kadar LDH yang meningkat. Bukti lainnya adalah pada apus darah tepi banyak
terjadi perubahan morfologi eritrosit seperti schizocytosis, spherocytosis dan
retikulocytosis. Hal ini disebabkan oleh hemolisis mikroangiopati yang
diakibatkan oleh disfungsi endotel yang disertai dengan deposit fibrin dan
agregasi trombosit. Adanya perubahan membran eritrosit, meningkatnya agregasi
akan memfasilitasi kondisi hiperkoagulasi. Perubahan laboratorium kearah
kondisi hiperkoagulasi pada dasarnya bersifat ringan. Oleh karena itu
pemeriksaan rutin faktor koagulasi, termasuk PT/APTT dan fibrinogen tidak
diperlukan pada pasien dengan preeklampsia-eklampsia. Trombofilia adalah
defisiensi faktor pembekuan yang mengakibatkan kondisi hiperkoagulasi. Hal ini
berhubungan dengan preeklampsia early-onset. Dilaporkan juga bahwa kadar
antitrombin lebih rendah pada wanita dengan preeklampsia dibandingkan dengan
wanita normal atau dengan hipertensi kronis. Adanya trombositopenia, hemolisis
dan peningkatan enzim hati disebut sindroma HELLP yang merupakan perburukan
dari preeklampsia. Beberapa klinisi memberikan kortikosteroid untuk mengurangi
berat penyakit. Pasien dengan sindroma HELLP mempunyai angka komplikasi yang
tinggi, Haddad dkk menemukan pada 40% kasus.
Perubahan pada sistem endokrin, homeostasis juga terjadi pada
pasien dengan preeklampsia-eklampsia. Volume cairan ekstraseluler akan
meningkat, diakibatkan oleh adanya kerusakan endotel. Akibat adanya kadar
protein yang menurun maka terjadi tekanan onkotik yang rendah dan memfasilitasi
terjadinya ekstravasasi cairan ke ekstrasel. Terjadi juga perfusi ginjal dan
laju filtrasi glomerulus yang berkurang yang mungkin diakibatkan oleh volume
plasma yang berkurang. Sebagai akibatnya pada pasien dengan preeklampsia maka
kadar kreatinin plasma akan meningkat hingga 2 kali kadar kehamilan normal
(dari 0,5 mg/dl menjadi 1,0 mg/dl). Pada kasus yang lebih berat lagi yang
disertai dengan vasospasme intrarenal maka kadar kreatinin dapat mencapai 2-3
mg/dl. Secara anatomis juga terjadi perubahan pada ginjal, yaitu adanya
endoteliosis kapiler glomerulus yang ditandai dengan pembengkakan endotel
kapiler glomerulus yang disertai deposit materi protein subendotel. Pada kasus
yang berat dapat terjadi kegagalan ginjal yang diakibatkan oleh nekrosis tubuler
akut dengan ciri oliguri atau anuria dan peningkatan kadar kreatinin yang cepat
(sekitar 1 mg/dl/hari).
Perubahan pada hepar wanita eklampsia pertama kali dikemukakan
oleh Virchow pada tahun 1856. Lesi yang khas adalah perdarahan periportal di
perifer hepar. Sheehan dan Lynch menemukan perdarahan yang disertai infark pada
50% kasus. Perdarahan yang terjadi biasanya ditangani secara konservati kecuali
hematom bertambah besar, yang memerulukan intervensi bedah.
Preeklampsia-eklampsia juga mengakibatkan perubahan pada susunan
saraf pusat. Perubahan anatomis yang bisa terjadi adalah perdarahan akibat
robeknya pembuluh darah karena hipertensi dan mungkin juga timbul edema,
hiperemi, iskemi, trombosis dan perdarahan. Pada perubahan yang pertama lebih
sering terjadi pada wanita dengan hipertensi kronik sebelumnya. Dengan
teknologi dopler maka sekarang dapat dilakukan pengukuran aliran darah dan
perfusi serbral nir invasif. Belfort dkk menemukan bahwa preeklampsia
berhubungan dengan peningkatan tekanan perfusi serebral yang dilawan dengan
peningkatan resistensi serebrovaskuler sehingga tidak ada perubahan aliran
darah serebral. Pada eklampsia, karena hilangnya autoregulasi aliran serebral,
terjadi hiperperfusi seperti yang ditemukan pada ensefalopati hipertensi. Zeeman dkk dengan studi MRI menemukan
bahwa kehamilan normal berhubungan dengan penurunan 20% aliran darah serebral
sedangkan pada preeklampsia terjadi hiperperfusi yang mungkin berperan pada
edema vasogenik yang ditemukan pada MRI.
Selain pada sirkulasi maternal, preeklampsia-eklampsia juga
mempengaruhi perfusi uteroplasenta akibat adanya vasospasme. Brosens dkk
melaporkan rerata diameter arteriol spiralis miometrium sebesar 200 µm pada
wanita dengan preeklampsia dibandingkan rerata diameter 500 µm pada wanita dengan
kehamilan normal. Pemeriksaan penurunan perfusi uteroplasenta dilakukan secara
indirek menggunakan doppler. Dari penelitian yang ada, peningkatan resistensi
terjadi pada beberapa namun tidak semua kasus preeklampsia.
Diagnosis
Hipertensi didiagnosis bila tekanan darah mencapai 140/90 mmHg
atau lebih dengan menggunakan fase 5 korotkoff sebagai definisi tekanan
diastolik. Peningkatan tekanan sistolik sebesar 30 mmHg dan diastoli sebesar 15
mmHg tidak lagi direkomendasikan sebagai kriteria diagnostik. Proteinuria yang
signifikan adalah bila melebihi 300 mg/24 jam atau 30 mg/dl (positif 1 pada
dipstick) yang menetap pada sampel urin acak.
Bila ditemukan hipertensi pada wanita hamil tanpa disertai adanya
proteinuria maka disebut hipertensi dalam kehamilan atau hipertensi transien
bila tidak timbul preeklampsia dan tekanan darah menjadi normal dalam 12 minggu
pasca persalinan. Jadi hipertensi dalam kehamilan sebenarnya diagnosis eksklusi
dan perlu diingat bahwa beberapa pasien dapat memburuk menjadi preeklampsia.
Preeklampsia didiagnosis bila adanya hipertensi yang disertai proteinuria.
Disebut preeklampsia berat bila memenuhi kriteria yang ada di atas.
Penatalaksanaan Medis
Dalam dunia kedokteran, Hipertensi
dalam kehamilan pada prinsipnya ditangani secara rawat jalan. Dilakukan
pemantauan tekanan darah, proteinuria dan kondisi janin setiap minggu. Jika
terdapat tanda pertumbuhan janin terhambat maka dilakukan perawatan untuk
menilai kesejahteraan janin dan perlu tidaknya terminasi kehamilan. Selama
rawat jalan pasien dan keluarga diberikan informasi mengenai tanda bahaya yang
mengarah ke preeklampsia atau eklampsia.
Prinsip utama penanganan preeklampsia adalah terminasi kehamilan
dengan trauma terkecil baik pada ibu dan janin, melahirkan bayi yang viabel dan
mengembalikan kesehatan ibu secara komplit.
Preeklampsia ringan dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu
maka dilakukan pemantauan 2 kali seminggu untuk menilai tekanan darah, urin dan
kondisi janin. Selama pemantauan tidak perlu diberikan antikonvulsan, sedatif
atau penenang , antihipertensi dan restriksi garam. Jika kehamilan lebih dari
37 minggu dan ada tanda perburukan kondisi janin seperti cairan amnion yang
berkurang atau pertumbuhan janin terhambat maka persalinan perlu dipercepat.
Jika serviks matang maka dilakukan amniotomi dan induksi oksitosin. Jika
serviks tidak matang, dilakukan pematangan dengan prostaglandin atau kateter
folley atau dilakukan seksio sesarea.
Preeklampsia berat ditangani hampir sama dengan eklampsia dengan
perbedaan bahwa lahirnya bayi harus dalam 12 jam setelah kejang pada kasus
dengan eklampsia. Seperti telah disebutkan terminasi kehamilan adalah prinsip
penanganan preeklampsia, jadi pada preekalmpsia berat prinsip utamanya adalah
pencegahan kejang dan kerusakan organ dan melahirkan bayi. Magnesium sulfat
parenteral adalah obat antikonvulsan yang efektif tanpa depresi sistem saraf
pusat bayi dan ibu. Kadar terapeutik adalah sebesar 4-7 mEq/L . Refleks patella
akan menghilang pada kadar 10 mEq/L dan merupakan tanda toksisitas paling awal.
Jika kadar melebihi 10 mEq/L maka akan timbul depresi pernafasan dan henti
nafas terjadi pada kadar 12 mEq/L atau lebih. Pemberian MgSO4 harus
memperhatikan fungsi ginjal, karena ekskresinya tergantung dari ekskresi oleh
ginjal. Estimasi fungsi ginjal dilakukan dengan mengukur kadar kreatinin
plasma, dimana bila kadar > 1,3 mg/dl maka pemberian MgSO4 rumatan diberikan
dalam setengah dosis. Pada kasus toksik, pemberian Ca glukonat 1 gr intravena
dengan menghentikan pemberian MgSO4 dapat mengatasi depresi pernafasan. Namun
pada kasus berat atau disertai henti jantung maka intubasi dan ventilasi
mekanik harus dilakukan.
MgSO4 menunjukkan efektifitas yang baik dalam mencegah kejang.
PenelitianEclampsia Trial Collaborative Group menunjukkan bahwa wanita yang diterapi
MgSO4 memiliki kejang ulangan 50% lebih rendah dibandingkan yang diberikan
diazepam. Kelompok MgSO4 juga mempunyai angka kematian maternal yang lebih
rendah. Sekitar 10-15% wanita dengan eklampsia akan mengalami kejang ulangan
dalam pengobatan MgSO4. Dosis tambahan sebesar 2 gr intravena dapat diberikan.
Pada kasus eklampsia puerpuralis maka pemberian MgSO4 dilakukan selama 24 jam.
Obat antihipertensi diberikan bila tekanan darah diastolik 110
mmHg atau lebih. Target terapi adalah untuk mempertahankan tekanan diastolik
90-100 mmHg untuk mencegah timbulnya perdarahan otak. Pilihan obat
antihiperensi adalah hidralazin, labetalol atau nifedipin dengan cara pemberian
sebagai berikut :
1. Hidralazin
diberikan 5 mg iv secara perlahan setiap 5 menit sampai tekanan darah turun.
Diulang setia jam atau berikan hidralazin 12,5 mg IM setiap 2 jam bila
diperlukan.
2. Labetolol
diberikan 10 mg iv, jika respon tidak adekuat setelah 10 menit maka diberikan
lagi labetolol 20 mg iv. Naikan dosis menjadi 40 mg dan kemudian 80 mg jika
tidak didapat respon setelah 10 menit pemberian.
3. Nifedipin
diberikan 5 mg sub lingual, jika tekanan diastolik masih di atas 110 mmHg
setelah 10 menit maka diberikan lagi 5 mg sublingual.
Prognosis
Wanita dengan hipertensi yang timbul dalam kehamilan harus
dievaluasi pasca persalinan dan diberikan konseling mengenai kehamilan
berikutnya dan risiko kardiovaskuler. Jika setelah 12 minggu tekanan darah
masih di atas normal maka disebut hipertensi kronik. Wanita dengan riwayat
preklampsia mempunyai risiko lebih tinggi untuk timbul hipertensi dalam
kehamilan berikutnya. Sibai dkk menemukan bahwa nullipara yang didiagnosis
preeklampsia sebelum 30 minggu mempunyai risiko rekurensi sebesar 40% pada
kehamilan berikut. Juga harus diingat bahwa wanita dengan preeklampsia
early-onset mungkin mempunyai penyakit yang mendasari sehingga dapat
mempengaruhi kesehatan jangka panjang.
Penatalaksanaan Holistik
Dalam menangani keluhan dan masalah klien, apalagi ibu hamil tentunya
harus ditangani secara holistik atau menyeluruh. Namun tentunya ada berbagai
upaya lain yang bisa dilakukan bersama therapis untuk membantu mengatasi
masalah ini. Ada beberapa alternatif therapy yang bisa dilakukan demi
menurunkan dan menstabilkan tekanan darah tersebut:
1. Akupunktur
dan akupresure
3. Hypnobirthing
4. Meditasi
5. Stress
Management
6. Yoga.
BAB
III
KASUS
Issue etik yang terjadi antara bidan dan organisasi profesi adalah suatu
topic masalah yang menjadi bahan pembicaraan antara bidan dengan organisasi
profesi karena terjadinyasuatu hal-hal yang menyimpang dari aturan-aturan yang
telah ditetapkan.
A. DAFTAR
PERAN
Bu Soimah : Ilhami Jauhara
Pak Sesar : Afrindya Maya
Marfu’ah : Ary Apriliyana
Bidan
Susanti : Dwi Wahyu Nurul
IBI : Eka Yuni A.
B. NASKAH
DRAMA
“Istriku Hilang”
Suatu
hari di sebuah desa, hidup sebuah keeluarga harmonis. Yaitu ibi Soimah, bapak
Sesar dan anaknya yang pertama bernama Marfu’ah. Suatu ketika ibu Soimah hamil
anak keduanya, 4 bulan. Keesokan harinya ibu Soimah bermaksud memeriksakan
kehamilannya di bidan setempat.
Bu Soimah :
(berteriak memanggil suaminya)
Pak,....Pak’e,.......Aduh
bapak.
Pak Sesar : Iyaa istriku,....(sambil berlari
menuju istrinya).
Ada apa to buk ? Kok triak-triak sgala, malu di dengar tetangga. Lagian
ini kan masih pagi buk, nanti saja lah (sambil memegang bahu istrinya) ~_~
Bu Soimah : Iiich,...bapak !!! Apa-apaan to
pak.. pak. Eling pak, eling. Anakmu mau 2 kilo pak.
Pak Sesar : Masyaallah,.....(sambil menepuk
dahi). Iya e buk, lali aku.
Terdengar
suara Marfu’ah mengetuk pintu.
(Assalamu’alaikum,.....)
Pak Sesar+Soimah : Walaikumsalam nduk.
Marfu’ah : Iya pak, buk (sambil salam ke
bapak ibuk).
Ini ada apa kok bapak sama ibuk duduk berduaan gini ?
Bu Soimah : Ini lo nduk, ibu ini berniat
memeriksakan kehamilan ibuk ini ke bidan Susanti, ibu merasa pusing nduk.
Pak Sesar : Ayo buk bapak antar.
Bu Soimah : Oalah pak,..pak. Ibuk panggil bapak
tadi ya gitu maksudnya. Anterin ibu ke bidan Susanti.
Pak Sesar : Ooo,..iya istriku. Ayo,..ayo.
Marfu’ah : Iiich bapak,.....genit !!! ^_^
Marfu’ah dirumah saja ya buk.
Bu Soimah : Iya nduk, kamu dirumah saja. Ayo
pak berangkat.
Sementara
itu bidan Susanti di rumahnya sedang bingung. Karena BPS-nya akhir-akhir ini
sedang sepi, pasiennya banyak yang datang ke bidan saingannya.
Pak Sesar+Soimah : Assalamu’alaikum,...
Bidan Susanti : Walaikumsalam pak buk.
Mari-mari silahkan masuk. Ada yang
bisa saya bantu ?
Pak Sesar : (langsung memotong pembicaraan)
Begini bu bid,...
Soimah : (menepuk kaki suaminya) Eech
bapak ki gak sopan.
Ehmm, maafin suami saya bu bidan.
Bidan Susanti : Gakpapa buk. Ada yang bisa saya bantu ?
Soimah : Begini buk, saya ini kok
sering pusing sekali ya bu bidan. Apa karena pengaruh kehamilan saya ini ?
Bidan Susanti : Mari buk, saya periksa dulu.
Ibu
Soimah tidur di bed, diperiksa bidan Susanti. Setelah selesai,...
Bu Soimah : Gimana bu bidan keadaan janin saya
?
Tidak apa-apa kan ?
Pak Sesar : Iya bu, gimana keadaan istri dan
calon anak saya ? Sehat kan ?
Bidan Susanti : Eeehm,... bu Soimah mengalami hipertensi
pak.
Tekanan darah tinggi.
Bidan
Susanti sudah mengerti resiko yang akan terjadi, tapi ia mementingkan egonya
sendiri. Karena takut kehilangan pasien dan komisinya, maka ia berbohong.
Pak Sesar : Jadi istri dan calon anak saya
baik-baik saja kan bu bidan ? Apa tekanan darah yang tinggi itu akan beresiko
besar terhadap istri dan anak saya ?
Bidan Susanti : Ooh,....tidak apa-apa pak.
Bu Soimah : Syukurlah kalau begitu bu bidan.
Ya sudah bu, terimakasih.
Wassalamu’alaikum,...
Bidan Susanti : Walaikumsalam,..
Tibanya
di rumah pak Sesar dan bu Soimah langsung bercerita kepada anaknya.
Pak Sesar+Soimah : Assalamu’alaikum,..
Marfu’ah : Walaikumsalam pak, buk
Gimana buk hasil pemeriksaannya ? Ibuk
dan calon adikku sehat-sehat saja kan ?
Bu Soimah : Alhamdulillah sehat-sehat saja
nduk.
Tapi kata bu bidan tadi ibuuk ini
hipertensi.
Marfu’ah : Lho ? Ibuk hipertensi kok
dibilang sehat dan baik-baik saja to buk ? Apa bidannya gak salah ?
(curiga pada bidan)
Waktu
persalinanpun tiba. Pak Sesar dan Marfu’ah membawa bu Soimah ke bidan Susanti.
Marfu’ah : Assalamu’alaikum bu bidan,...
Bu,...bu bidan,... (mengetuk pintu)
Bidan Susanti : Walaikumsalam,....sebentar-sebentar
tunggu dulu.
(Berlari membuka pintu). Ayo pak
masuk-masuk, ibuknya dibaringkan ditempat tidur.
Bu
Soimah kejang-kejang tidak berhenti. Bidan Susanti mengukur tekanan darahnya
dan hasilnya hipertensi. Bidan Susanti nekat menolong persalinan sendiri.
Pak Sesar : Aduh bu bidan, gimana ini istri
saya ?
Selamatkan dia bu,..!!
Bidan Susanti : Iya pak,...tenang, tenang.
Proses
persalinan dimulai, dan bu Soimah terus kejang-kejang. Jalan lahirnya mengalami
perdarahan hebat. Dan akhirnyaaa,...bu Soimah dan bayinya meninggal dunia.
Marfu’ah : (memeluk ibunya, menangis....)
Pak Sesar : Tidaaaaak,... (menjerit dan
memeluk sang istri)
Berita
ini sampai terdengar Organisasi Profesi (IBI) dan mendatangi bidan Susanti.
IBI : Assalamu’alaikum,..
Bidan Susanti : Walaikumsalam,..
Silahkan masuk bu (salaman)
IBI : Begini bu, saya sudah
mendengar berita ini. Dan saya ingin mendengar langsung dari bu bidan. Apa yang
sebenarnya terjadi, kenapa bisa pasien anda meninggal ?
Apa dari awal kehamilannya memang
sudah beresiko ?
Bidan Susanti : Iiiyaaa bu...
Ibu hamil tersebut mengalami
hipertensi sejak awal kehamilan.
IBI : Lalu kenapa anda nekat
menolong persalinan sendiri ? Kenapa tidak dirujuk ke RS ?
Bidan Susanti : Saya tidak mau kehilangan komisi saya
bu.
Setelah
melihat semua berkas-berkas / dokumentasi, dinyatakan bidan Susanti bersalah
dan diberi sanksi + denda.
BAB
IV
PEMBAHASAN
Issue etik :
Terjadi malpraktek
pelanggaran wewenang bidan
Pada kasus tersebut telah dijelaskan bahwa ibu mengalami hipertensi dalam
kehamilannya. Namun bidan tidak memberikan konseling yang memadai untuk
menangani hipertensi yang dialami oleh pasien. Bidan hanya mementingkan egonya
untuk mendapatkan keuntungan saja. Bidan tidak memberitahu klien mengenai cara
menangani hipertensi yang dialami klien agar tekanan darah kembali normal.
Bidan takut kalau bumil menjadi takut dan tidak mau periksa kepada bidan lagi.
Yang sebenarnya hipertensi dalam kehamilan dapat diatasi dengan beberapa cara.
Saat ibu akan bersalin, bidan yang mengetahui kondisi ibu yang mengalami
hipertensi tidak mau merujuk ibu karena tidak ingin kehilanga keuntungan. Dalam
hal ini bidan tidak mementingkan keselamatan pasien. Ibu bersalin dengan komplikasi
bukanlah menjadi wewenang bidan, sehingga harus dirujuk. Karena ke-egoisan
bidan, akhirnya janin dan ibu tidak terselamatkan. Hingga informasi tersebut
terdengar oleh Organisasi Profesi (IBI), dan bidan haruslah
mempertanggungjawabkan apa yang telah dia lakukan karena ke-egoisannya. Setiap
bidan haruslah mentaati wewenang dan kode etik kebidanan.
BAB
V
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Hipertensi
dalam kehamilan masih dapat diatasi dan perlu pemantauan oleh tenaga kesehatan
(bidan atau dokter). Bidan tersebut tidak mementingkan keselamatan pasien,
dalam hal ini bidan telah melanggar kode etik kebidanan. Bidan tersebut juga
telah menolong pasien dengan komplikasi, sehingga bidan tersebut telah
melanggar wewenangnya.
B.
SARAN
Seharusnya,
bidan dalam menolong persalinan lebih mementingkan keselamatan pasien bukannya
mendahulukan keuntungannya saja. Bidan haruslah mentaati kode etik kebidanan dan
wewenang bidan. Karena hal tersebut dapat dijadikan sebagai patokan dalam
melakukan setiap tindakan dalam profesinya.
DAFTAR
PUSTAKA

Tidak ada komentar:
Posting Komentar