Jumat, 11 Oktober 2013

Issue Etik yang Berhubungan Dengan Hipertensi


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
ISSUE ETIK adalah topik yang cukup penting untuk dibicarakan sehingga mayoritas individu akan mengeluarkan opini terhadap masalah tersebut sesuai dengan asas ataupun nilai yang berkenaan dengan akhlak, nilai benar salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.
Dalam prakteknya, bidan mungkin saja akan mengalami hal tersebut. Dan bidan dalam mengambil keputusan / tindakan haruslah dengan tepat. Maka sangat penting sekali untuk memahami masalah ini.
Pada kesempatan kali ini, kami akan membahas mengenai issue etik yang berhubungan dengan hipertensi pada kehamilan.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa yang dimaksud dengan hipertensi ?
2.      Bagaimana gejala dari hipertensi ?
3.      Apa penyebab dari hipertensi ?
4.      Apa yang dimaksud dengan hipertensi dalam kehamilan ?
5.      Bagaimana penanganan hipertensi selama kehamilan ?

C.    TUJUAN
Tujuan Khusus     : Untuk memenuhi tugas mata kuliah Etika Profesi.
Tujuan Umum      : Mengetahui dan memahami hipertensi dalam kehamilan, dampak, penyebab, gejala, dan penanganannya.
                               Dapat mengambil hikmah dari kasus yang ada.
                              




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    PENGERTIAN HIPERTENSI
Pengertian hipertensi atau tekananan darah tinggi merupakan gangguan pada sistem peredaran darah yang dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah di atas nilai normal, yaitu melebihi 140 / 90 mmHg. Hipertensi dalam bahasa inggrisnya adalah Hypertension, Hypertension berasal dari dua kata yaitu Hyper yang berarti tinggi, dan Tension yang berarti tegangan.  
Tekanan darah kurang dari 120 / 80 mmHg dapat diartikan sebagai tekanan darah yang normal. Ketika terjadi tekanan darah tinggi, umumnya terjadi kenaikan tekanan sistolik dan diastolik. Hipertensi umumnya terjadi ketika tekanan darah mencapai 140 / 90 mmHG atau lebih, pengukuran tekanan darah ini dilakukan pada lengan tiga kali dalam jangka beberapa minggu.
Berikut ini merupakan tabel klasifikasi atau penggolongan tekanan darah pada orang dewasa.
Pengertian Hipertensi Definisi Hipertensi adalah

B.     GEJALA HIPERTENSI
Hipertensi atau tekanan darah tinggi harus diwaspadai, karena umumnya pada penderita hipertensi tidak merasakan adanya gejala.  namun  secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi (padahal sesungguhnya tidak). Gejala yang dimaksud adalah sakit kepala, perdarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan dan kelelahan, yang bisa saja terjadi baik pada penderita hipertensi, maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal.
Jika hipertensi sudah pada level yang  berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala antara lain : sakit kepala, kelelahan, mual, muntah, sesak napas, gelisah, pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak, mata, jantung dan ginjal. Terkadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan bahkan koma karena terjadi pembengkakan otak. Keadaan ini disebut ensefalopati hipertensif, yang harus segera mendapatkan penanganan.

C.    PENYEBAB HIPERTENSI
Berdasarkan penyebabnya, hipertensi terdiri atas dua macam yaitu Hipetensi Primer atau Esensial dan Hipertensi Sekunder. Hipertensi primer atau esensial merupakan hipertensi yang tidak atau belum diketahui sebabnya (terdapat pada kurang lebih 90 % dari seluruh hipertensi).
Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang disebabkan/ sebagai akibat dari adanya penyakit lain. Hipertensi primer kemungkinan memiliki banyak penyebab; beberapa perubahan pada jantung dan pembuluh darah kemungkinan bersama-sama menyebabkan meningkatnya tekanan darah.
Jika penyebabnya diketahui, maka disebut hipertensi sekunder. Pada sekitar 5-10% penderita hipertensi, penyebabnya adalah penyakit ginjal. Pada sekitar 1-2%, penyebabnya adalah kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu (misalnya pil KB).
Penyebab hipertensi lainnya yang jarang adalah feokromositoma, yaitu tumor pada kelenjar adrenal yang menghasilkan hormon epinefrin (adrenalin) atau norepinefrin (noradrenalin).
Kegemukan (obesitas), gaya hidup yang tidak aktif (malas berolah raga), stres, alkohol atau garam dalam makanan; bisa memicu terjadinya hipertensi pada orang-orang memiliki kepekaan yang diturunkan. Stres cenderung menyebabkan kenaikan tekanan darah untuk sementara waktu, jika stres telah berlalu, maka tekanan darah biasanya akan kembali normal. Beberapa penyebab terjadinya hipertensi sekunder antara lain :
1.      Penyakit Ginjal : Stenosis arteri renalis, Pielonefritis, Glomerulonefritis, Tumor-tumor ginjal, Penyakit ginjal polikista (biasanya diturunkan), Trauma pada ginjal (luka yang mengenai ginjal), Terapi penyinaran yang mengenai ginjal.
2.      Kelainan Hormonal : Hiperaldosteronisme, Sindroma Cushing, Feokromositoma,
3.      Obat-obatan : Pil KB, Kortikosteroid, Siklosporin, Eritropoietin, Kokain, Penyalahgunaan alkohol, Kayu manis (dalam jumlah sangat besar)
4.      Penyebab Lainnya : Koartasio aorta, Preeklamsi pada kehamilan, Porfiria intermiten akut, Keracunan timbal akut.

D.    HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN
Klasifikasi penyakit hipertensi pada kehamilan:
1.      Hipertensi dalam kehamilan
2.      Preeklampsia : ringan dan berat
3.      Eklampsia
4.      Hipertensi kronik
5.      Hipertensi kronik superimposed preeklampsia atau eklampsia
Preeklampsia
Didefinisikan sebagai timbulnya hipertensi, proteinuri setelah kehamilan 20 minggu pada wanita dengan tekanan darah yang normal sebelumnya. Dapat juga berkaitan dengan gejala dan tanda lainnya seperti edema, gangguan penglihatan, nyeri kepala, nyeri ulu hati. Preeklampsia dapat timbul sebelum usia kehamilan 20 minggu pada wanita dengan kehamilan mola atau adanya lupus antikoagulan. Terdapat dua jenis preeklampsia yaitu:
·         Preeklampsia ringan, bila tidak ditemukan adanya tanda preeklampsia berat
·         Preeklampsia berat, bila satu atau lebih kriteria di bawah ini terpenuhi
a)      Tekanan darah sistolik > 160 mmHg atau diastolik > 110 mmHg dalam dua kali pengukuran dengan jarak 6 jam
b)      Proteinuri sebesar 5 g/24 jam atau +3 atau lebih pada pengukuran semikuantitatif
c)      Olguria, produksi urin kurang dari 500 cc/24 jam
d)     Gangguan serebral atau penglihatan, gangguan kesadaran, nyeri kepala, skotoma
e)      Edema paru
f)       Nyeri epigastrium atau kuadran kanan atas
g)      Gangguan fungsi hati tanpa adanya etiologi lain
h)      Trombositopenia
i)        Pertumbuhan janin terhambat
Eklampsia
Eklampsia adalah timbulnya kejang umum atau penurunan kesadaran pada wanita dengan preeklampsia setelah penyakit neurologis, seperti epilepsi sudah disingkirkan. Jika hipertensi ditemukan pada kehamilan < 20 minggu dan tidak adanya mola hidatidosa maka wanita tersebut didiagnosis dengan hipertensi kronik. Dan bila kemudian timbul proteinuri maka disebut preeklampsia superimposed. Kriteria lain preeklampsia superimposed adalah peningkatan tekanan darah yang mendadak, timbulnya hemolisis, gangguan fungsi hati, timbulnya sindroma hellp.
Etiologiblank
Teori mengenai etiologi dan patofisiologi preeklampsia harus memperhatikan pengamatan bahwa penyakit hipertensi karena kehamilan lebih mungkin terjadi pada wanita yang:
1.      Terpajan villi korialis untuk pertama kalinya
2.      Terpajan villi korialis yang jumlahnya banyak, seperti dalam kembar atau mola hidatidosa
3.      Mempunyai penyakit vaskuler sebelumnya
4.      Mempunyai predisposisi genetik untuk hipertensi
Meskipun vili korialis penting dalam etiologi preeklampsia, namun letaknya tidak harus di dalam uterus dan juga janin tidak menjadi penentu timbul atau tidaknya preeklampsia. Apapun etiologi yang mendasarinya, kaskade peristiwa yang menghasilkan sindrom preeklampsia mempunyai ciri kerusakan endotel vaskuler dengan vasospasme, transudasi plasama yang diikuti sekuele iskemia dan trombosis.
Beberapa mekanisme sudah diajukan untuk menjelaskan etiologi preeklampsia. Menurut sibai, etiologi yang dianggap potensial adalah:
1.      Invasi trofoblas pembuluh darah uterina yang abnormal
2.      Intoleransi imunologis antara jaringan maternal dan janin-plasenta
3.      Maladaptasi maternal terhadap perubahan kardiovaskuler atau inflamasi selama kehamilan
4.      Defisiensi nutrisi
5.      Pengaruh genetik
Patofisiologi
Preeklampsia adalah suatu sindrom atau kumpulan gejala yang mempunyai konsekuensi patofisiologi pada seluruh sistem tubuh. Perubahan pada masing-masing sistem organ saling mempengaruhi dan juga derajat patologi masing-masing sistem organ berbeda-beda sehingga spektrum penyakit preeklampsia-eklampsia sangat bervariasi.
Gangguan pada sistem kardiovaskuler umum ditemukan pada pasien preeklampsia atau eklampsia. Hal ini berkaitan dengan meningkatnya beban afterload karena hipertensi, perubahan preload yang diakibatkan oleh berkurangnya hipervolemia pada kehamilan dan aktivasi endotel dengan ekstravasasi plasma. Derajat aberasi kardiovaskuler tergantung beberapa faktor, termasuk beratnya hipertensi, ada tidaknya penyakit kronik, ada tidaknya preeklampsia dan waktu pemeriksaan.
Hemokonsentrasi adalah fitur utama dari preeklampsia-eklampsia. Wanita dengan berat badan rata-rata seharusnya mempunyai 5000 cc volume darah pada saat aterm dibandingkan 3500 cc pada wanita yang tidak hamil. Pada preeklampsia-eklampsia volume yang meningkat sebesar 1500 cc tidak terjadi. Dengan adanya hemokonsentrasi, vasospasme dan kebocoran endotel maka wanita dengan preeklampsia-eklampsia sensitif terhadap terapi cairan yang diberikan dan terhadap kehilangan darah saat persalinan.
Kelainan hematologi juga terjadi pada beberapa wanita dengan preeklampsia. Trombositopenia, penurunan faktor pembekuan dan hemolisis eritrosit adalah yang sering terjadi. Penurunan jumlah trombosit diakibatkan oleh aktivasi platelet, agregasi dan konsumsi yang meningkat disertai rentang hidup yang berkurang. Trombositopenia di bawah 100.000/ul menggambarkan proses penyakit yang berat, dan biasanya akan terus menurun. Setelah persalinan, jumlah trombosit akan meningkat progresif untuk mencapai kadar normal dalam 3-5 hari. Preeklampsia berat sering disertai dengan hemolisis yang ditandai dengan kadar LDH yang meningkat. Bukti lainnya adalah pada apus darah tepi banyak terjadi perubahan morfologi eritrosit seperti schizocytosis, spherocytosis dan retikulocytosis. Hal ini disebabkan oleh hemolisis mikroangiopati yang diakibatkan oleh disfungsi endotel yang disertai dengan deposit fibrin dan agregasi trombosit. Adanya perubahan membran eritrosit, meningkatnya agregasi akan memfasilitasi kondisi hiperkoagulasi. Perubahan laboratorium kearah kondisi hiperkoagulasi pada dasarnya bersifat ringan. Oleh karena itu pemeriksaan rutin faktor koagulasi, termasuk PT/APTT dan fibrinogen tidak diperlukan pada pasien dengan preeklampsia-eklampsia. Trombofilia adalah defisiensi faktor pembekuan yang mengakibatkan kondisi hiperkoagulasi. Hal ini berhubungan dengan preeklampsia early-onset. Dilaporkan juga bahwa kadar antitrombin lebih rendah pada wanita dengan preeklampsia dibandingkan dengan wanita normal atau dengan hipertensi kronis. Adanya trombositopenia, hemolisis dan peningkatan enzim hati disebut sindroma HELLP yang merupakan perburukan dari preeklampsia. Beberapa klinisi memberikan kortikosteroid untuk mengurangi berat penyakit. Pasien dengan sindroma HELLP mempunyai angka komplikasi yang tinggi, Haddad dkk menemukan pada 40% kasus.
Perubahan pada sistem endokrin, homeostasis juga terjadi pada pasien dengan preeklampsia-eklampsia. Volume cairan ekstraseluler akan meningkat, diakibatkan oleh adanya kerusakan endotel. Akibat adanya kadar protein yang menurun maka terjadi tekanan onkotik yang rendah dan memfasilitasi terjadinya ekstravasasi cairan ke ekstrasel. Terjadi juga perfusi ginjal dan laju filtrasi glomerulus yang berkurang yang mungkin diakibatkan oleh volume plasma yang berkurang. Sebagai akibatnya pada pasien dengan preeklampsia maka kadar kreatinin plasma akan meningkat hingga 2 kali kadar kehamilan normal (dari 0,5 mg/dl menjadi 1,0 mg/dl). Pada kasus yang lebih berat lagi yang disertai dengan vasospasme intrarenal maka kadar kreatinin dapat mencapai 2-3 mg/dl. Secara anatomis juga terjadi perubahan pada ginjal, yaitu adanya endoteliosis kapiler glomerulus yang ditandai dengan pembengkakan endotel kapiler glomerulus yang disertai deposit materi protein subendotel. Pada kasus yang berat dapat terjadi kegagalan ginjal yang diakibatkan oleh nekrosis tubuler akut dengan ciri oliguri atau anuria dan peningkatan kadar kreatinin yang cepat (sekitar 1 mg/dl/hari).
Perubahan pada hepar wanita eklampsia pertama kali dikemukakan oleh Virchow pada tahun 1856. Lesi yang khas adalah perdarahan periportal di perifer hepar. Sheehan dan Lynch menemukan perdarahan yang disertai infark pada 50% kasus. Perdarahan yang terjadi biasanya ditangani secara konservati kecuali hematom bertambah besar, yang memerulukan intervensi bedah.
Preeklampsia-eklampsia juga mengakibatkan perubahan pada susunan saraf pusat. Perubahan anatomis yang bisa terjadi adalah perdarahan akibat robeknya pembuluh darah karena hipertensi dan mungkin juga timbul edema, hiperemi, iskemi, trombosis dan perdarahan. Pada perubahan yang pertama lebih sering terjadi pada wanita dengan hipertensi kronik sebelumnya. Dengan teknologi dopler maka sekarang dapat dilakukan pengukuran aliran darah dan perfusi serbral nir invasif. Belfort dkk menemukan bahwa preeklampsia berhubungan dengan peningkatan tekanan perfusi serebral yang dilawan dengan peningkatan resistensi serebrovaskuler sehingga tidak ada perubahan aliran darah serebral. Pada eklampsia, karena hilangnya autoregulasi aliran serebral, terjadi hiperperfusi seperti yang ditemukan pada ensefalopati hipertensi. Zeeman dkk dengan studi MRI menemukan bahwa kehamilan normal berhubungan dengan penurunan 20% aliran darah serebral sedangkan pada preeklampsia terjadi hiperperfusi yang mungkin berperan pada edema vasogenik yang ditemukan pada MRI.
Selain pada sirkulasi maternal, preeklampsia-eklampsia juga mempengaruhi perfusi uteroplasenta akibat adanya vasospasme. Brosens dkk melaporkan rerata diameter arteriol spiralis miometrium sebesar 200 µm pada wanita dengan preeklampsia dibandingkan rerata diameter 500 µm pada wanita dengan kehamilan normal. Pemeriksaan penurunan perfusi uteroplasenta dilakukan secara indirek menggunakan doppler. Dari penelitian yang ada, peningkatan resistensi terjadi pada beberapa namun tidak semua kasus preeklampsia.
Diagnosis
Hipertensi didiagnosis bila tekanan darah mencapai 140/90 mmHg atau lebih dengan menggunakan fase 5 korotkoff sebagai definisi tekanan diastolik. Peningkatan tekanan sistolik sebesar 30 mmHg dan diastoli sebesar 15 mmHg tidak lagi direkomendasikan sebagai kriteria diagnostik. Proteinuria yang signifikan adalah bila melebihi 300 mg/24 jam atau 30 mg/dl (positif 1 pada dipstick) yang menetap pada sampel urin acak.
Bila ditemukan hipertensi pada wanita hamil tanpa disertai adanya proteinuria maka disebut hipertensi dalam kehamilan atau hipertensi transien bila tidak timbul preeklampsia dan tekanan darah menjadi normal dalam 12 minggu pasca persalinan. Jadi hipertensi dalam kehamilan sebenarnya diagnosis eksklusi dan perlu diingat bahwa beberapa pasien dapat memburuk menjadi preeklampsia. Preeklampsia didiagnosis bila adanya hipertensi yang disertai proteinuria. Disebut preeklampsia berat bila memenuhi kriteria yang ada di atas.
Penatalaksanaan Medis
Dalam dunia kedokteran, Hipertensi dalam kehamilan pada prinsipnya ditangani secara rawat jalan. Dilakukan pemantauan tekanan darah, proteinuria dan kondisi janin setiap minggu. Jika terdapat tanda pertumbuhan janin terhambat maka dilakukan perawatan untuk menilai kesejahteraan janin dan perlu tidaknya terminasi kehamilan. Selama rawat jalan pasien dan keluarga diberikan informasi mengenai tanda bahaya yang mengarah ke preeklampsia atau eklampsia.
Prinsip utama penanganan preeklampsia adalah terminasi kehamilan dengan trauma terkecil baik pada ibu dan janin, melahirkan bayi yang viabel dan mengembalikan kesehatan ibu secara komplit.
Preeklampsia ringan dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu maka dilakukan pemantauan 2 kali seminggu untuk menilai tekanan darah, urin dan kondisi janin. Selama pemantauan tidak perlu diberikan antikonvulsan, sedatif atau penenang , antihipertensi dan restriksi garam. Jika kehamilan lebih dari 37 minggu dan ada tanda perburukan kondisi janin seperti cairan amnion yang berkurang atau pertumbuhan janin terhambat maka persalinan perlu dipercepat. Jika serviks matang maka dilakukan amniotomi dan induksi oksitosin. Jika serviks tidak matang, dilakukan pematangan dengan prostaglandin atau kateter folley atau dilakukan seksio sesarea.
Preeklampsia berat ditangani hampir sama dengan eklampsia dengan perbedaan bahwa lahirnya bayi harus dalam 12 jam setelah kejang pada kasus dengan eklampsia. Seperti telah disebutkan terminasi kehamilan adalah prinsip penanganan preeklampsia, jadi pada preekalmpsia berat prinsip utamanya adalah pencegahan kejang dan kerusakan organ dan melahirkan bayi. Magnesium sulfat parenteral adalah obat antikonvulsan yang efektif tanpa depresi sistem saraf pusat bayi dan ibu. Kadar terapeutik adalah sebesar 4-7 mEq/L . Refleks patella akan menghilang pada kadar 10 mEq/L dan merupakan tanda toksisitas paling awal. Jika kadar melebihi 10 mEq/L maka akan timbul depresi pernafasan dan henti nafas terjadi pada kadar 12 mEq/L atau lebih. Pemberian MgSO4 harus memperhatikan fungsi ginjal, karena ekskresinya tergantung dari ekskresi oleh ginjal. Estimasi fungsi ginjal dilakukan dengan mengukur kadar kreatinin plasma, dimana bila kadar > 1,3 mg/dl maka pemberian MgSO4 rumatan diberikan dalam setengah dosis. Pada kasus toksik, pemberian Ca glukonat 1 gr intravena dengan menghentikan pemberian MgSO4 dapat mengatasi depresi pernafasan. Namun pada kasus berat atau disertai henti jantung maka intubasi dan ventilasi mekanik harus dilakukan.
MgSO4 menunjukkan efektifitas yang baik dalam mencegah kejang. PenelitianEclampsia Trial Collaborative Group menunjukkan bahwa wanita yang diterapi MgSO4 memiliki kejang ulangan 50% lebih rendah dibandingkan yang diberikan diazepam. Kelompok MgSO4 juga mempunyai angka kematian maternal yang lebih rendah. Sekitar 10-15% wanita dengan eklampsia akan mengalami kejang ulangan dalam pengobatan MgSO4. Dosis tambahan sebesar 2 gr intravena dapat diberikan. Pada kasus eklampsia puerpuralis maka pemberian MgSO4 dilakukan selama 24 jam.
Obat antihipertensi diberikan bila tekanan darah diastolik 110 mmHg atau lebih. Target terapi adalah untuk mempertahankan tekanan diastolik 90-100 mmHg untuk mencegah timbulnya perdarahan otak. Pilihan obat antihiperensi adalah hidralazin, labetalol atau nifedipin dengan cara pemberian sebagai berikut :
1.      Hidralazin diberikan 5 mg iv secara perlahan setiap 5 menit sampai tekanan darah turun. Diulang setia jam atau berikan hidralazin 12,5 mg IM setiap 2 jam bila diperlukan.
2.      Labetolol diberikan 10 mg iv, jika respon tidak adekuat setelah 10 menit maka diberikan lagi labetolol 20 mg iv. Naikan dosis menjadi 40 mg dan kemudian 80 mg jika tidak didapat respon setelah 10 menit pemberian.
3.      Nifedipin diberikan 5 mg sub lingual, jika tekanan diastolik masih di atas 110 mmHg setelah 10 menit maka diberikan lagi 5 mg sublingual.
Prognosis
Wanita dengan hipertensi yang timbul dalam kehamilan harus dievaluasi pasca persalinan dan diberikan konseling mengenai kehamilan berikutnya dan risiko kardiovaskuler. Jika setelah 12 minggu tekanan darah masih di atas normal maka disebut hipertensi kronik. Wanita dengan riwayat preklampsia mempunyai risiko lebih tinggi untuk timbul hipertensi dalam kehamilan berikutnya. Sibai dkk menemukan bahwa nullipara yang didiagnosis preeklampsia sebelum 30 minggu mempunyai risiko rekurensi sebesar 40% pada kehamilan berikut. Juga harus diingat bahwa wanita dengan preeklampsia early-onset mungkin mempunyai penyakit yang mendasari sehingga dapat mempengaruhi kesehatan jangka panjang.
Penatalaksanaan Holistik
Dalam menangani keluhan dan masalah klien, apalagi ibu hamil tentunya harus ditangani secara holistik atau menyeluruh. Namun tentunya ada berbagai upaya lain yang bisa dilakukan bersama therapis untuk membantu mengatasi masalah ini. Ada beberapa alternatif therapy yang bisa dilakukan demi menurunkan dan menstabilkan tekanan darah tersebut:
1.      Akupunktur dan akupresure
2.      Biofeedback.
3.      Hypnobirthing
4.      Meditasi
5.      Stress Management
6.      Yoga.


















BAB III
KASUS
Issue etik yang terjadi antara bidan dan organisasi profesi adalah suatu topic masalah yang menjadi bahan pembicaraan antara bidan dengan organisasi profesi karena terjadinyasuatu hal-hal yang menyimpang dari aturan-aturan yang telah ditetapkan.

A.    DAFTAR PERAN
Bu Soimah           : Ilhami Jauhara
Pak Sesar              : Afrindya Maya
Marfu’ah              : Ary Apriliyana
Bidan Susanti       : Dwi Wahyu Nurul
IBI                       : Eka Yuni A.

B.     NASKAH DRAMA
“Istriku Hilang”
Suatu hari di sebuah desa, hidup sebuah keeluarga harmonis. Yaitu ibi Soimah, bapak Sesar dan anaknya yang pertama bernama Marfu’ah. Suatu ketika ibu Soimah hamil anak keduanya, 4 bulan. Keesokan harinya ibu Soimah bermaksud memeriksakan kehamilannya di bidan setempat.
Bu Soimah           : (berteriak memanggil suaminya)
                               Pak,....Pak’e,.......Aduh bapak.
Pak Sesar             : Iyaa istriku,....(sambil berlari menuju istrinya).
                               Ada apa to buk ? Kok triak-triak sgala, malu di dengar tetangga. Lagian ini kan masih pagi buk, nanti saja lah (sambil memegang bahu istrinya) ~_~
Bu Soimah           : Iiich,...bapak !!! Apa-apaan to pak.. pak. Eling pak, eling. Anakmu mau 2 kilo pak.
Pak Sesar             : Masyaallah,.....(sambil menepuk dahi). Iya e buk, lali aku.
Terdengar suara Marfu’ah mengetuk pintu.
(Assalamu’alaikum,.....)
Pak Sesar+Soimah : Walaikumsalam nduk.
Marfu’ah              : Iya pak, buk (sambil salam ke bapak ibuk).  
                               Ini ada apa kok bapak sama ibuk duduk berduaan gini ?
Bu Soimah           : Ini lo nduk, ibu ini berniat memeriksakan kehamilan ibuk ini ke bidan Susanti, ibu merasa pusing nduk.
Pak Sesar             : Ayo buk bapak antar.
Bu Soimah           : Oalah pak,..pak. Ibuk panggil bapak tadi ya gitu maksudnya. Anterin ibu ke bidan Susanti.
Pak Sesar             : Ooo,..iya istriku. Ayo,..ayo.
Marfu’ah              : Iiich bapak,.....genit !!! ^_^
                               Marfu’ah dirumah saja ya buk.
Bu Soimah           : Iya nduk, kamu dirumah saja. Ayo pak berangkat.
Sementara itu bidan Susanti di rumahnya sedang bingung. Karena BPS-nya akhir-akhir ini sedang sepi, pasiennya banyak yang datang ke bidan saingannya.
Pak Sesar+Soimah : Assalamu’alaikum,...
Bidan Susanti      : Walaikumsalam pak buk.
                               Mari-mari silahkan masuk. Ada yang bisa saya bantu ?
Pak Sesar             : (langsung memotong pembicaraan)
                               Begini bu bid,...
Soimah                 : (menepuk kaki suaminya) Eech bapak ki gak sopan.
                               Ehmm, maafin suami saya bu bidan.
Bidan Susanti      : Gakpapa buk. Ada yang bisa saya bantu ?
Soimah                 : Begini buk, saya ini kok sering pusing sekali ya bu bidan. Apa karena pengaruh kehamilan saya ini ?
Bidan Susanti      : Mari buk, saya periksa dulu.
Ibu Soimah tidur di bed, diperiksa bidan Susanti. Setelah selesai,...
Bu Soimah           : Gimana bu bidan keadaan janin saya ?
                               Tidak apa-apa kan ?
Pak Sesar             : Iya bu, gimana keadaan istri dan calon anak saya ? Sehat kan ?
Bidan Susanti      : Eeehm,... bu Soimah mengalami hipertensi pak.
                               Tekanan darah tinggi.
Bidan Susanti sudah mengerti resiko yang akan terjadi, tapi ia mementingkan egonya sendiri. Karena takut kehilangan pasien dan komisinya, maka ia berbohong.
Pak Sesar             : Jadi istri dan calon anak saya baik-baik saja kan bu bidan ? Apa tekanan darah yang tinggi itu akan beresiko besar terhadap istri dan anak saya ?
Bidan Susanti      : Ooh,....tidak apa-apa pak.
Bu Soimah           : Syukurlah kalau begitu bu bidan.
                               Ya sudah bu, terimakasih. Wassalamu’alaikum,...
Bidan Susanti      : Walaikumsalam,..
Tibanya di rumah pak Sesar dan bu Soimah langsung bercerita kepada anaknya.
Pak Sesar+Soimah : Assalamu’alaikum,..
Marfu’ah              : Walaikumsalam pak, buk
                               Gimana buk hasil pemeriksaannya ? Ibuk dan calon adikku sehat-sehat saja kan ?
Bu Soimah           : Alhamdulillah sehat-sehat saja nduk.
                               Tapi kata bu bidan tadi ibuuk ini hipertensi.
Marfu’ah              : Lho ? Ibuk hipertensi kok dibilang sehat dan baik-baik saja to buk ? Apa bidannya gak salah ?
                               (curiga pada bidan)
Waktu persalinanpun tiba. Pak Sesar dan Marfu’ah membawa bu Soimah ke bidan Susanti.
Marfu’ah              : Assalamu’alaikum bu bidan,...
                               Bu,...bu bidan,... (mengetuk pintu)
Bidan Susanti      : Walaikumsalam,....sebentar-sebentar tunggu dulu.
                               (Berlari membuka pintu). Ayo pak masuk-masuk, ibuknya dibaringkan ditempat tidur.
Bu Soimah kejang-kejang tidak berhenti. Bidan Susanti mengukur tekanan darahnya dan hasilnya hipertensi. Bidan Susanti nekat menolong persalinan sendiri.
Pak Sesar             : Aduh bu bidan, gimana ini istri saya ?
                               Selamatkan dia bu,..!!
Bidan Susanti      : Iya pak,...tenang, tenang.
Proses persalinan dimulai, dan bu Soimah terus kejang-kejang. Jalan lahirnya mengalami perdarahan hebat. Dan akhirnyaaa,...bu Soimah dan bayinya meninggal dunia.
Marfu’ah              : (memeluk ibunya, menangis....)
Pak Sesar             : Tidaaaaak,... (menjerit dan memeluk sang istri)
Berita ini sampai terdengar Organisasi Profesi (IBI) dan mendatangi bidan Susanti.
IBI                       : Assalamu’alaikum,..
Bidan Susanti      : Walaikumsalam,..
                               Silahkan masuk bu (salaman)
IBI                       : Begini bu, saya sudah mendengar berita ini. Dan saya ingin mendengar langsung dari bu bidan. Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa bisa pasien anda meninggal ?
                               Apa dari awal kehamilannya memang sudah beresiko ?
Bidan Susanti      : Iiiyaaa bu...
                               Ibu hamil tersebut mengalami hipertensi sejak awal kehamilan.
IBI                       : Lalu kenapa anda nekat menolong persalinan sendiri ? Kenapa tidak dirujuk ke RS ?
Bidan Susanti      : Saya tidak mau kehilangan komisi saya bu.
Setelah melihat semua berkas-berkas / dokumentasi, dinyatakan bidan Susanti bersalah dan diberi sanksi + denda.








BAB IV
PEMBAHASAN

Issue etik :
  Terjadi malpraktek 
   pelanggaran wewenang bidan     
Pada kasus tersebut telah dijelaskan bahwa ibu mengalami hipertensi dalam kehamilannya. Namun bidan tidak memberikan konseling yang memadai untuk menangani hipertensi yang dialami oleh pasien. Bidan hanya mementingkan egonya untuk mendapatkan keuntungan saja. Bidan tidak memberitahu klien mengenai cara menangani hipertensi yang dialami klien agar tekanan darah kembali normal. Bidan takut kalau bumil menjadi takut dan tidak mau periksa kepada bidan lagi. Yang sebenarnya hipertensi dalam kehamilan dapat diatasi dengan beberapa cara.
Saat ibu akan bersalin, bidan yang mengetahui kondisi ibu yang mengalami hipertensi tidak mau merujuk ibu karena tidak ingin kehilanga keuntungan. Dalam hal ini bidan tidak mementingkan keselamatan pasien. Ibu bersalin dengan komplikasi bukanlah menjadi wewenang bidan, sehingga harus dirujuk. Karena ke-egoisan bidan, akhirnya janin dan ibu tidak terselamatkan. Hingga informasi tersebut terdengar oleh Organisasi Profesi (IBI), dan bidan haruslah mempertanggungjawabkan apa yang telah dia lakukan karena ke-egoisannya. Setiap bidan haruslah mentaati wewenang dan kode etik kebidanan.










BAB V
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Hipertensi dalam kehamilan masih dapat diatasi dan perlu pemantauan oleh tenaga kesehatan (bidan atau dokter). Bidan tersebut tidak mementingkan keselamatan pasien, dalam hal ini bidan telah melanggar kode etik kebidanan. Bidan tersebut juga telah menolong pasien dengan komplikasi, sehingga bidan tersebut telah melanggar wewenangnya.

B.     SARAN
Seharusnya, bidan dalam menolong persalinan lebih mementingkan keselamatan pasien bukannya mendahulukan keuntungannya saja. Bidan haruslah mentaati kode etik kebidanan dan wewenang bidan. Karena hal tersebut dapat dijadikan sebagai patokan dalam melakukan setiap tindakan dalam profesinya.
















DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar